Bikin logo unik itu bukan sekadar untuk meramaikan suasana ataupun sekadar terinspirasi. Namun akan lebih baik hasilnya jika dibarengi dengan semangat bereksperimen untuk mendapatkan diferensiasi. Seiring berjalannya waktu, diferensiasi saja belum cukup, namun mesti mudah diingat. Caranya bagaimana?

Hindari Penggunaan Angka

Di Indonesia sendiri cukup banyak nama logo yang masih menggunakan angka. Sebagian ada yang sukses, tapi kebanyakan tenggelam oleh perubahan zaman. Terutama untuk yang tidak kuat dalam hal promosi dan mengedukasi calon pelanggannya. Di balik itu semua, ada fakta penting kenapa para pelanggan tidak mudah mengingat logo yang menggunakan angka.

Sebab, jenis logo ini mudah sekali diduplikasi. Misalnya Anda punya usaha warung makan bakso khas Klaten. Kemudian Anda bikin logo bernama “Klatenso 01”. Dalam waktu dekat, saat bisnis Anda bertumbuh, hampir pasti ada yang bikin sekuelnya. Misalnya “Klatenso 02”, “Klatenso 03”, dan seterusnya. Riskan sekali.

Hindari Penggunaan Kata yang Sulit Dibaca

Dalam ilmu pembuatan logo yang baik, sulit dibaca sama halnya dengan sulit diingat. Apalagi jika ditambah dengan kualitas gambar yang kurang natural. Katakanlah Anda mau bikin logo tentang jasa desain kaus. Kemudian dinamai dengan “Bretswadzer Glieandarsy”. Kesan awalnya memang terdengar keren. Tapi kesan keren hanya di hadapan pembuatnya.

Calon pengguna jasa desain kaus Anda pasti kesulitan saat membacanya. Apalagi mengingatnya. Selain sulit diingat, logo tersebut juga kurang berkaitan dengan bisnis yang Anda tekuni. Justru lebih terdengar pas jika disandangkan untuk merek perhiasan. Maka dari itu, dipikir ulang kembali sebelum bikin logo untuk bisnis Anda.

Terobsesi dengan Nama Anak Sendiri, Bolehkah?

Berhubung sulit menemukan kata untuk bikin logo unik, akhirnya sebagian besar pebisnis menggunakan nama anak sendiri. Lainnya malah pakai kombinasi antara namanya plus pasangan. Boleh saja sebetulnya. Asalkan nama anak Anda memiliki diferensiasi yang kuat. Dengan kata lain, sudah unik meskipun tidak dikaitkan dengan bisnis apa pun.

Lagi pula, membangun bisnis itu bukan untuk mengabadikan nama anak, kan? Perkembangan anak dengan perkembangan bisnis memiliki jalan yang berbeda. Akan lebih baik justru nama logo yang Anda buat berasal dari pikiran selintas. Biasanya ide yang muncul lebih unik dan pas jika diterapkan pada logo Anda.

Kaitkan dengan Sebagian Besar Pelanggan Anda

Jika masih belum ketemu nama logonya, bisa Anda tunda dulu. Bisnis mesti jalan dulu dan tidak perlu memusingkan perihal namanya. Sebagai gantinya, sering-seringlah riset pasar untuk menjaring lead (calon pembeli) lebih banyak lagi. Setelah traffic berkembang, analisis kembali berdasarkan psikologi serta demografi mereka.

Apakah sebagian besar masih remaja, dewasa, anak-anak, atau rombongan. Suka varian apa dan sering nyeplos kalimat apa. Semua data tersebut penting untuk segera Anda tangkap dan eksekusi. Kemudian Anda konversi menjadi logo yang keren dan unik. Misalnya punya bisnis tentang bakpia. Berhubung yang banyak datang itu ibu-ibu, bisa kasih nama Papapia.

Memiliki Makna Filosofi yang Mendalam

Nama tanpa makna seperti tubuh tanpa jiwa. Biarpun hanya selintas dan sedikit, tetap memerlukan makna. Hal ini berkaitan dengan visi-misi bisnis Anda ke depannya. Untuk membuat nama logo yang bermakna, tinjau kembali keinginan besar Anda. Dulu, sebelum bikin bisnis, punya mimpi besar seperti apa. Kemudian olah dan tampilkan dalam logo.

Logo unik itu mahal harganya. Sebab berkaitan dengan ide yang sangat sedikit eksekutornya. Bisa jadi, nama logo tersebut sering Anda lihat. Baik di jalan, coretan dinding, atau tempat lain yang sering diabaikan. Sering-sering brainstorming pula untuk mendapatkan stok nama logo yang unik dan berkesan. Siapa tahu di masa depan punya rancangan bisnis lain.